السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Gimana
kabarnya Sahbat Paring yang selalu setia dengan Panyoet Inspiring, In Syaa
Allah kali nie Paring mau berbagi cerita inspirasi tentang Ulasan Akhir Ziat 😉 selamat membaca sahabat-sahabatku :) .
***
Abi Buchri memang bukan orang kaya, tapi ia
yakin menikahi Zulaiqha adalah ridha-Nya. Takdir Tuhan mempertemukan mereka
dalam ikatan suci. Umi Zulaiqha yang hanya seorang ibu rumah tangga mampu
membangun setiap tiang kebahagiaan dengan kokoh. Ditambah lagi dengan kehadiran
si kecil Ziat Alfatih, semua menjadi lengkap.
“Ummi, Ziat ingin sekali sekolah TK, seperti
anak-anak lain loh mi....”
“Iya neuk (panggilan untuk anak), besok Ummi
akan antar neuneuk ke sekolah ya.” Zulaiqha menangis. Mungkin Ziat terlalu
polos, ia tak tahu Umminya menangis bahagia atau sebaliknya. Yang ia tahu hanya
satu! sekolah. Memang di Aceh sekolah TK harus bayar uang bulanan. Tentunya
bagi keluarga Buchri, ia harus membanting tulang demi keluarganya.
Ziat adalah murid yang cerdas, ingatannya sangat tajam, tak sia-sia rasanya perjuangan Buchri selama
ini. Bahkan ia mampu menyelesaikan sekolah TK-nya dengan cepat. Ziat memang
luar biasa.
Sementara kini, Ziat melanjutkan sekolahnya
di SD Al-Muqaddimah.
“Ziat, dengar kata-kata Abi ya! Ziat jangan
jadi anak yang nakal ya! Patuhi apa yang dikatakan oleh ibu guru ya? Jadilah
anak yang shaleh!“
“Siap Abi! Ziat gak akan nakal, insya Allah
Ziat akan jadi anak yang shaleh”.
“Itu baru anak Abi !” keduanya tersenyum.
“Dah dulu ya Abi, Ziat mau masuk kelas dulu
ni, sepertinya ibu guru dah nunggu, assalamu’alaikum Abi…”, Pangeran
kecil itu berlari menuju kelas.
“Wa’alaikum salam Wr.Wb “ senyum Buchri
berisikan doa untuk Ziat.
***
Sembilan tahun adalah waktu yang singkat bagi
Buchri dan Zulaiqha. Perjuangan mereka tak sia-sia. Ziat tumbuh menjadi anak
yang berwawasan, disiplin, dan tentunya beretika. Memang benar, agama adalah
pembentuk etika manusia. Tanpa agama, selimut kebaikan hanyalah sebuah duplikat
kemaksiatan.
“Ziat mau gak melanjutkan SMA-nya ke tempat
Tahfiz Al-Qur’an?” Tanya Abi.
“Abi! Memangnya di situ diajarkan menghafal
Al-Qur’an ya?” jawab Ziat.
“Iya. Ziat mau gak jadi penghafal Al-quran?
karena jika kita dapat menghafal Al-qur’an dengan hati yang ikhlas, maka di
hari kiamat kelak kita dapat memasukkan 5 orang yang kita sayangi ke dalam
Surga-Nya Allah” jawab Abi Buchri sambil menaikkan alis.
“Ya Abi! Ziat mau banget, itu kan salah satu
ibadah yang besar pahalanya”Ziat sangat bersemangat.
“Abi senang kalau Ziat mau sekolah di situ”
pelukan Buchri menjadi semangat bagi Ziat.
Esok harinya, Ziat mendapat brosur mengenai
sekolah Tahfizh Quran. Ternyata biaya sekolah sangat mahal setiap bulannya, Rp.
1,5 juta perbulannya.
Jika Ziat pergi ke sekolah
ini, Ziat akan menyusahkan Abi dan Ummi. Penghasilan Abi dan Ummi tidak cukup
untuk membayar biaya sekolah ini.
Menatap secarik kertas itu membuat Ziat
sedih. Mata berkaca, hampir tumpah air matanya. Jujur saja, ia kecewa karena
Abi tidak pernah mengatakan berapa biaya sekolah Tahfizh. Ziat memang anak yang
baik, ia tidak ingin merepotkan kedua orangtuanya. Baginya, Abi dan umi adalah
segala-galanya.
“Abi….!!!” panggil Ziat kepada Abi
“Iya neuk, Abi disini!”jawab Abi. “ditaman
belakang”sambung Abi.
Tap…tap…tap… suara langkah Ziat mendekati
Abi,
“Bi, Ziat gak mau melanjutkan sekolah di
sekolah tahfizd qur’an”kata Ziat tiba-tiba
“Kenapa neuk?”Tanya Abi
“Pokoknya Ziat gak mau di sekolah tahfizd
itu!”jawab Ziat dengan tegas
Abi Buchri merasa sedih karena niatnya yang
tidak tercapai untuk menjadikan Ziat seorang hafiz. Namun, apa boleh buat, Ziat
pun tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya, karena Ziat begitu menyayangi
Abi dan Umminya.
***
Pagi itu Ziat menemui Pak Zain Malik, kepala
SMP nya. Maksud kedatangannya untuk menanyakan sekolah lanjutan mana yang masih
memiliki pendidikan dan mutu yang bagus.
“Bagaimana kalau di sekolah berasrama saja.
Memang biayanya cukup terjangkau, tapi sangat jauh dari desa kita ini” saran
Pak Zain
“kira-kira biayanya berapa pak ?”Tanya Ziat
“sekitar Rp.500.000 perbulan dan itu
merupakan sekolah boarding, kamu mau?”Tanya Pak Zain
“Boleh, Ziat mau pak” seru Ziat
Ziat pun bergegas pulang untuk menemui
Abinya.
“Assalamualaikum, Abi Abi” seru Ziat
memanggil Abinya
“Iya, kenapa neuk?”kata Abi
“Abi, Ziat mau sekolah di sekolah boarding
ajha. Sekolah boarding ini sudah cukup terkenal sehingga banyak peminatnya,
tapi jauh dari desa kita ini.” Kata Ziat
“Gak pa-pa, kalau Ziat maunya di sekolah
itu”kata Abi.
Tak butuh waktu yang lama, Abi Buchri sudah
mendaftarkan Ziat di sekolah boarding yang diinginkan Ziat. Dengan nilai yang
bagus, akhirnya Ziat dapat memasuki sekolah boarding itu. Sampai tiba hari
pertama Ziat, Ummi dan Abi mengantarkan Ziat ke sekolah boarding itu.
“Ziat kan! Sekarang tinggal di asrama. Ingat!
Jangan lalai, belajar yang rajin, dan jaga diri baik-baik ya neuk. Ummi hanya
bisa berdoa untuk Ziat.”kata Ummi haru bercampur sedih.
“baik Ummi, Ziat gak akan ngecewain Ummi.
Ummi jangan sedih” jawab Ziat.
“Denger tu kata Ummi, Ziat harus jadi anak
yang shaleh dan bisa banggain Ummi dan Abii, oke?” kata Abi (hati kecilnya agak
sedih karna gak bisa jadikan Ziat jadi Hafidh Quran)
“ siaaaaaap Abii” jawab Ziat dengan semangat.
Tak terasa waktu cepat berlalu, sekarang
saatnya Ummi dan Abi pulang kembali ke desa. Abi dan Ummi hanya dapat
berkunjung sebulan sekali. Saat Abi dan Ummi berkunjung, Ziat meminta sebuah
alat perekam video suara, dan Abi menyagupinya.
***
Dua bulan sudah Ziat berada di sekolah
boarding itu, rasa penat dan lelah telah ia rasakan dengan jadwal yang agak
padat, tapi tak sedikitpun semangat yang memudar untuk menghafal al-qur’an,
walaupun sekolah ini bukan sekolah tahfidz. Dengan target 2,5 tahun, dia harus
sudah khatam menghafal al-qur’an. Maka itu, setiap harinya Ziat menambah 10
ayat di pagi hari dan mengulangnya di sore hari. Tak lupa pula di rekam, agar
suatu saat nanti Abi dapat mendengar hafalannya ini.
Kegiatan ini selalu rutin Ziat lakukan,
sampai akhir dia berada di bangku sekolah boarding ini. Seminggu sebelum UN
dilaksanakan, Ziat sudah mengkhatamkan hafalan al-qur’annya, hingga beberapa
helai rambutnya mulai memutih. Subhanallah, hanya Allah yang tau niat tulusnya
menghafal al-quran.
***
Sebulan kemudian, hasil UN sudah keluar.
Alhamdulillah Ziat lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan sukses membuat
Abi dan Umminya bangga akan dia. Ziat bergegas pulang ke desa menggunakan mobil
L-300, berbekal ilmu yang dipelajari dan hafalan qur’annya, Ziat begitu ingin
mengabari Abi dan Ummi.
Namun, takdir berkata lain, hanya Allah yang
tau, mobil L-300 yang ditumpangi Ziat mengalami kecelakaan. Banyak korban
yang meninggal dunia, tak sedikit yang selamat, begitupun dengan Ziat, ia
sedang dalam keadaan kritis. Berita itu begitu cepat tersampaikan kepada Abi
dan Ummi, tak butuh waktu yang lama Abi dan Ummi sudah sampai di rumah sakit,
tempat Ziat dirawat. Melihat Ziat terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang
rumah sakit, membuat Abi dan Ummi tak kuasa menahan tangisannya.
***
Hari ini, entah kenapa Ziat merasakan
kegelisahan yang luar biasa. Seakan-akan membuatnya begitu jauh dengan Abi dan
Ummi. Rasa sakit akibat kecelakaan itu pun tak lekas pulih, malah makin
bertambah sakit. Ziat takut, takut akan janji yang tak bisa ia penuhi kepada
orang tuanya dan dirinya sendiri. Dengan tenaga yang masih ada Ziat meminta
tolong kepada Ummi untuk mengambilkan al-qur’an, secarik kertas, bolpoin, dan
juga alat perekam suara.
Malam itu, Ziat merasakan perasaan yang
terombang-ambing. Disaat semua orang sudah terlelap, dia mulai menulis sebuah
surat buat Abi dan Umminya.
Assalamu’alaikum,
Abi dan Ummi…
Maafkan Ziat, Ziat sudah
tidak kuat lagi. Mungkin esok hari kita tidak dapat bersama-sama lagi, bisa
jadi malaikat maut akan datang untuk menjemput Ziat pada malam ini juga. Ziat
sangat bahagia! Sangat, sangat bahagia punya orang tua seperti Abi dan Ummi.
Yang telah mendidik Ziat dengan sangaaaat baik.
Ziat cuma ingin mengatakan,
bahwa … Alhamdulillah, dengan izin Allah, Ziat sudah mengkhatamkan hafalan
Ziat. Jikalau Abi kurang yakin, Maka Abi bisa melihat video suara hafalan Ziat
selama ini, pada alat perekam yang telah Abi belikan untuk Ziat. Semua itu Ziat lakukan
ikhlas karna Allah SWT dan semata-mata ingin memasukkan Abi dan Ummi ke dalam
surga-Nya Allah
Abi,, Ummi,,
Maafkan Ziat, Allah begitu
menyayangi Ziat hingga Allah duluan menjemput Ziat daripada Abi dan Ummi.
Rencana Allah itu emang lebih baik, Ziat menunggu Abi dan Ummi di sana, sampai
jumpa Abi dan Ummi. Jangan bersedih yaa! Ziat sayang kalian.
Wassalam
Ziat Alfatih
Dengan keyakinan yang kuat dan al-qur’an
didada beserta secarik surat dan juga alat perekam, akhirnya Ziat menghembuskan
nafas terakhir dengan mengucapkan Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa
asyadu anna muhammadar rasulullah, tanpa seorangpun yang tau.
Paginya, Abi dan Ummi melihat
Ziat yang tersenyum hangat sambil mendekap al-qur’an, secarik surat dan sebuah
alat perekam. Dengan perasaan yang sedih dan penuh duka, Abi dan Ummi membaca
surat yang dituliskan. Air mata yang telah terbendung, tumpah dengan
sendirinya. Mereka sangat bersyukur Allah pernah menitipkan sebuah permata yang
begitu indah kepada mereka. Abinya pun tak menyangka Ziat menghafal al quran.
***
Setiap harinya, Ummi dan Abi
tidak pernah lupa untuk mengawali hari mereka dengan melihat dan mendengar
hafalan qur’an Ziat. Ziat emang tidak akan pernah terlupakan bagi Abi dan Ummi.
Ziat begitu menyayangi Abi dan Ummi, begitu juga Allah. Beberapa bulan
kemudian, Allah telah menitipkan sebuah permata yang masih begitu kecil yang
belum terjangkau dan memerlukan waktu untuk menjadikannya indah.
Penulis : Nursyafira,
Khusna Annisa, Rouzatul Jannah, Ibadis Syukra, Nur Amelia dan Muhammad Rizal
Ayuby

Tidak ada komentar:
Posting Komentar